Feature

Pengguna Jalan Berterima Kasih, PKL Mengeluh

0 Comments 13 May 2011

*Jalan AP Pettarani Menuju Delapan Lajur

Lebar jalan sepanjang ruas jalan dari pertigaan Sultan Alauddin hingga perempatan Urip Sumoharjo akan ditambah. Semula enam  jadi delapan lajur.  Pengerjaannya bertahap sampai 2013 nanti. Bagaimana nasib pedagang kecil di sekitarnya ?

Aan Pranata, Pettarani

Melintasi Jalan AP Pettarani beberapa hari belakangan mungkin terlihat pemandangan berbeda. Di ujung jalan yang berpotongan dengan Sultan Alauddin, beberapa pekerja silih ganti mengoperasikan kendaraan berat. Ada yang mengeruk tanah, meratakan, juga mengangkut hasil kerukan.

Tahap pertama pengerjaan jalan dilakukan  sepanjang satu  kilometer. Masing-masing 500 meter di kiri dan kanan sisi jalan. Pengerjaannya sudah jalan.  Trotoar yang dulu terbentang di masing-masing sisi jalan tak lagi terlihat. Berganti sisa kerukan tanah yang masih dalam proses perataan. Bunyi alat berat pekerja terdengar jelas setiap pengendara yang melintas.

Pengguna jalan merasa senang dengan bertambahnya lajur di salah satu jalan paling ramai di Makassar tersebut. Rusman, warga Jalan Urip Sumoharjo mengaku sudah sangat wajar Jalan Pettarani diperlebar lantaran volume kendaraan yang terus bertambah. Sebagai pengguna jalan, kemacetan bisa sedikit diminimalisasi lewat pelebaran jalan.

“Saya malah berterima kasih ke pemerintah kota. Selama ini jalan paling macet ada di kawasan Pettarani. Banyak orang yang mengakses jalan itu karena pusat bisnis dan kantor. Jadi, sangat bagus kalau jalannya diperlebar,” kata Rusman.

Rudi, warga yang bekerja di kawasan Panakkukang Mas juga mengapresiasi kebiajakan pemkot atas pelebaran Jalan Pettarani. Dia berharap perlambatan di beberapa titik bisa dikurangi dengan badan jalan yang bertambah. “Median jalan yang lebar bisa dipersempit agar jalannya lebih longgar. Saya senang dengan pelebaran ini,” katanya.

Melebarkan pandangan lebih ke luar sisi jalan, tak jauh beda dengan beberapa waktu sebelumnya. Masih ada puluhan pedagang kaki lima. Berjejer di kiri dan kanan jalan. Jika dulu mereka menjajakan dagangan di atas trotoar, sekarang lokasinya agak menepi lagi. Mengambil tempat tepat di atas got.

Jumlah pedagang kaki lima di sekitar Pettarani yang sedang dalam pengerjaan cukup banyak. Di sisi kiri dari arah Alauddin, berjejer bermacam pedagang makanan. Ada ikan bakar, bakso, nasi goreng, juga coto. Di sisi kanan, semuanya pedagang es kelapa. Jumlahnya tak lebih dari sepuluh.

Pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Pettarani masih sering dipertanyakan keberadaannya. Mereka dianggap merusak tata kota. Di lain pihak, mereka mencari makan dengan mengharap rejeki di pinggir jalan.
Pedagang-pedagang kaki lima di sepanjang Pettarani tidak beruntung banyak. Hanya cukup untuk makan sehari-hari. Itu pengakuan mereka di hari-hari biasa. Sekarang, saat jalan tempat mereka berjualan sedang dikerja, kondisinya beda lagi. Jualan semakin menurun.

Menurunnya hasil jualan selama pengerjaan  Jalan Pettarani diakui beberapa pedagang. Ada banyak sebab, mulai dari persoalan parkir hingga kenyamanan pembeli.

Rostina, salah satu pedagang menungkapkan dagangannya menurun drastis selama hampir seminggu pengerjaan jalan. Menurut hitung-hitungannya sendiri, jualan menurun sampai 40 persen. Hitungan tersebut hanya menggunakan perasaan dengan membandingkan hari-hari sebelumnya.

Rostina yang menjajakan sop dan ikan bakar mengakui kurangnya jualan lebih disebabkan situasi yang kurang nyaman selama pengerjaan jalan. Kendaraan proyek pulang balik di depan warung. Tak ada tempat parkir, pembeli pun pikir-pikir untuk singgah. Hal itu ia yakini akan lebih parah jika sedang hujan. Bekas kerukan tanah akan menghasilkan kubangan yang menghalangi pembeli untuk singgah.

Menyikapi pelebaran jalan yang dilakukan pemerintah, Rostina mengaku tidak terlalu mempersoalkannya. Baginya, bisa berjualan dengan tenang setiap hari sudah cukup bagi pedagang seperti dirinya. Ia juga berharap pelebaran jalan tersebut tidak diikuti dengan penggusuran.

“Kami di sini cari makan. Tolong dikasi kesempatan untuk jualan dengan tenang. Mau jalan dikasi lebar atau sempit, itu terserah”, ungkap Rostina dengan logat khas Makassar.

Jika Roslina tidak terlalu menghiraukan pelebaran jalan, lain lagi menurut Rusli. Pemuda yang sehari-hari berjualan es kelapa muda ini mengaku pemerintah sama sekali tidak punya rencana. Hal tersebut menyangkut trotoar yang dihancurkan untuk pelebaran jalan.

Menurut Rusli, sebelumnya trotoar tersebut sudah sangat bermanfaat bagi pejalan kaki dan memperindah kota dari bentuknya yang menarik. Pemerintah membuat kesalahan dengan menghancurkannya, padahal pembangunannya baru beberapa tahun yang lalu. Pelebaran jalan ia akui sebagai pemborosan. “Harusnya dananya dipakai untuk membina warga miskin”, katanya.

Soal hasil dagangan sehari-hari, Rusli tidak jauh beda dengan pedagang lain. Es kelapa muda yang ia jajakan menurun dua kali lipat dibanding hari-hari sebelumnya. Penyebabnya juga terkait kenyamanan pembeli.
“Pembeli kurang yang mau singgah. Banyak debu selama pengerjaan jalan,” tutupnya. (*)

***Halaman Metropilis Harian Fajar edisi Sabtu, 14 mei 2011

Feature

Mengandalkan Mesin Tik Bekas

0 Comments 10 May 2011

*Bekerja Normal Meski di Tenda Darurat

Ini baru pelayan warga yang patut dicontoh. Bekerja maksimal di tengah keterbatasan.

AAN PRANATA, Manggala

DUA hari setelah terbakar, aktivitas di Kantor Lurah Batua, Kecamatan Manggala tetap normal. Sejak Senin lalu, pegawai kelurahan mulai melayani warga di bawah tenda sederhana. Tenda ini tak jauh dari puing bangunan yang habis dilalap api pada Minggu, 8 Mei lalu.

Pegawai yang sehari-hari bertugas di Kantor Lurah Batua tetap melayani warga yang datang bergantian sepanjang hari. Selasa kemarin, warga yang datang kebanyakan mengurus keperluan administrasi untuk mengusus kartu tanda penduduk maupun kartu keluarga.

Aktivitas di bawah tenda yang berukuran tiga kali enam tersebut dilakukan dengan peralatan sederhana. Tak ada fasilitas mewah. Tidak ada komputer, tak ada kursi empuk. Pegawai menyambut warga yang datang dengan tiga meja dan beberapa bangku kayu. Selain buku tulis dan pulpen yang, terdapat dua mesin tik untuk membantu pekerjaan.

Mesin tik yang dipakai pegawai tersebut merupakan bantuan Pemerintah Kota Makassar yang diberikan bersama beberapa kursi pada Senin lalu. Mesin tik yang diberikan bukanlah barang baru. Mesin tik bekas. Hanya kursi yang masih terbungkus dengan plastik.

Jam kerja pegawai dan staf kelurahan juga mengalami perubahan. Sejak Senin, aktivitas di kantor berlangsung lebih lama dari biasanya. Jika pada situasi normal pegawai pulang jam tiga, kini mereka pulang jam empat.

Lurah Batua, Andi Ilyas, mengatakan, aktivitas di bawah tenda tidak akan berlangsung lama. Aktivitas akan dipindahkan ke lokasi lain. Pemindahan tersebut hanya untuk sementara, sambil menunggu pembangunan kembali gedung yang terbakar.

Sampai saat ini sudah ada lima lokasi yang jadi alternatif pemindahan lokasi. Tiga diantaranya adalah rumah warga, sedangkan dua lainnya masing-masing kampus perguruan tinggi dan kantor swasta.

“Kami sudah lakukan survei, dan akan memutuskan ke mana kami akan pindah. Kalau tidak ada halangan, kami sudah pindah besok (hari ini, red)”, ungkap Ilyas.

Ia juga mengungkapkan terima kasih terhadap warga kelurahan yang dianggapnya peduli. “Adanya tawaran menempati lokasi untuk kami itu jadi bukti,” lanjut Ilyas.

Ilyas mengakui warga  telah banyak membantu sejak terjadinya  musibah kebakaran minggu lalu. Mulai dari pembangunan tenda darurat, warga dari tiap-tiap RW bergantian membawakan makanan. Kursi dan meja yang ada di bawah tenda darurat juga merupakan permberian warga. (*)

***Halaman Metropilis Harian Fajar edisi Rabu, 11 mei 2011

Feature

Perlu Antisipasi Dini Sebelum Hilang

0 Comments 10 May 2011

*Catatan Media Trip WWF Indonesia Antisipasi Krisis Seafood (2-Selesai)

Jika tidak diantisipasi, ikan laut di wilayah Makassar bisa hilang dalam 50 tahun ke depan.

AAN PRANATA, Makassar

KUNJUNGAN jurnalis peserta media trip World Wide Fund (WWF) Indonesia ke kampung Nelayan di Barombong cukup singkat. Hanya sekitar satu jam. Tepat pukul enam, rombongan kembali ke hotel dan mempersiapkan diskusi.

Diskusi rombongan aktivis WWF-Indonesia dan jurnalis berlangsung santai di Rumah Makan Paotere di Paotere.  Muhammad Yusuf, aktivis WWF Indonesia yang berbasis di Makassar, kali ini banyak member masukan sambil bersantap ikan bakar.

Yusuf menjelaskan fenomena yang terjadi terhadap persoalan perikanan. Ikan di lokasi penangkapan dikatakan memang sudah krisis. Sebuah ancaman untuk biota laut.

Dipaparkan juga hasil sebuah penelitian yang mengatakan populasi ikan di laut akan habis 50 tahun lagi jika pola eksploitasi tidak berubah dari sekarang. Hal itu terutama terjadi di negara berkembang, mengingat negara-negara maju sudah menerapkan aturan yang dapat menangkalnya.

Pola penangkapan ikan di wilayah sekitar Makassar juga diyakini turut menjadi perusak biota laut dalam beberapa tahun belakangan. Sejak tahun 1980, nelayan sudah lakukan penangkapan secara destruktif dengan menggunakan peralatan yang tidak benar. Mereka sudah menggunakan racun dan bom. Lokasinya tidak hanya di Makassar, tapi menyebar sampai ke Indonesia timur lainnya.

Kegiatan media trip tidak berhenti sampai diskusi. Jumat pagi, 6 Mei, rombongan mengarah ke Dinas Perikanan dan Kelautan Sulsel. Di tempat ini rencananya akan dipaparkan data-data tentang hasil laut di wilayah sekitar Makassar. Sayangnya, kepala dinas bersangkutan gagal ditemui peserta media trip.

Tujuan selanjutnya Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin. Rombongan disambut Prof Najamuddin, salah seorang pembantu dekan.

Najamuddin menjelaskan, selain eksploitasi yang berlebihan, berkurangnya biota laut khususnya ikan lebih dikarenakan pencemaran. Karang yang jadi tempat tinggal ikan telah terkontaminasi kandungan logam berat. Belum lagi soal pemanasan global yang bisa menghancurkan habitat ikan.

Untuk mengetahui secara pasti data terkait jumlah hasil tangkapan nelayan, Najamuddin mengatakan harus menggunakan cara yang akurat. Data pasar yang selama ini digunakan peneliti cenderung sudah dimanipulasi.

Pihak Unhas, kata dia, akan merekomendasikan kepada pemerintah untuk membuat kebijakan. Perlu diadakan peraturan seputar selektivitas tangkapan. Tidak semua ikan bisa ditangkap. Selain itu, peralatan tangkap juga harus dibatasi, sesuai dengan standar yang seharusnya. Daerah tangkapan juga setidaknya harus diperhatikan secara serius agar tidak semua habitat ikan musnah. (*)

***Halaman Metropilis Harian Fajar edisi Selasa, 10 Mei 2011

Feature

Nelayan yang Susah semakin Susah

0 Comments 10 May 2011

*Catatan Media Trip WWF Indonesia Antisipasi Krisis Seafood (1)

Nelayan tradisional yang hidupnya sudah susah semakin susah menangkap ikan.

AAN PRANATA, Makassar

KURANGNYA kesadaran masyarakat akan permasalahan kelautan dan perikanan membuat kelangsungan hidup biota laut terancam. Ekspoitasi makhluk laut yang berlebihan dan cara-cara penangkapan yang tidak benar memperparah keadaan.

Dengan alasan tersebut, World Wide Fund (WWF) Indonesia mengadakan media trip bertema “Solusi Krisis Seafood” bersama jurnalis. Selama tiga hari, 3-6 Mei 2011 jurnalis diajak serta mengunjungi beberapa sektor perikanan di Wakatobi dan Makassar untuk meliput dan memberitakan isu-isu tersebut.

Tiba di Makassar, Kamis, 5 Mei, jurnalis peserta media trip langsung mengunjungi perkampungan nelayan tradisional di Kelurahan Barombong. Dua aktivis WWF,  Priska dan Shintya, jadi pendamping. Sedangkan Muhammad Yusuf, wakil WWF yang berbasis di Makassar mengarahkan dan membimbing rombongan.

Kampung nelayan yang jadi tujuan kunjungan tidak jauh. Letaknya di pinggiran Sungai Jeneberang. Untuk menempuhnya butuh waktu sekitar 15 menit dari pusat kota Makassar.

Dalam kunjungan ke Barombong, rombongan menemui warga yang sebagian besar nelayan. Nelayan di sini masih menggunakan cara-cara tradisional. Ada yang menggunakan pancing tradisional, rawai, sebagian lagi memanfaatkan jala.

Daeng Nai, salah seorang nelayan setempat berkenan memaparkan pengalamannya dan menjawab pertanyaan dari jurnalis yang dipenuhi rasa ingin tahu.

Terkait dengan isu krisis seafood, Daeng Nai mengakui jika dia bersama nelayan tradisional lainnya semakin sulit menangkap ikan dengan peralatan tradisional. Selain jarak tempat tangkapan yang semakin jauh, jumlah dan ukuran tangkapan tidak lagi seperti seperti beberapa tahun lalu.

“Memang semakin susah. Dulu masih bisa dapat ikan layang di daerah muara. Tidak perlu waktu lama. Sekarang harus habiskan waktu di laut, hasilnya juga tidak sebanding,” ungkap Daeng Nai.

Nelayan Barombong masih menggunakan jala dalam pola tangkapnya. Bentuknya berupa jaring insang. Pengakuan Daeng Nai, teknik menggunakan jala ini mulai digunakan sejak tahun 2000.

Sistem yang dipakai nelayan tradisional di sini juga tergantung musim. Jika sedang sepi tangkapan ikan, cumi-cumi jadi pilihan kedua. Anak-anak di desa sering diikutkan. Peralatan yang digunakan juga sederhana, hanya berupa kail yang dililitkan pada tasi dan diikat pada batang kayu sebagai pegangan. (Bersambung)

***Halaman Metropilis Harian Fajar edisi Senin, 9 Mei 2011

Feature

Terpesona Keindahan di Balik Bidikan Lensa

0 Comments 10 May 2011

Rihat Bersama Anggota DPRD Sulsel, Affandy Agusman Aris

BAJU kaos dengan logo komunitas fotografi melekat di badannya. Minggu, 1 Mei. Ia sedang libur. Affandi Agusman Aris duduk santai di Warkop Cyber, Jalan DR RAtulangi Makassar.

Laporan Aan Pranata

Politikus Partai Hanura ini tergabung di Komisi D DPRD Sulsel. Terpilih di dapil lima pemilu 2009 lalu. Kesehariannya disesaki beragam aktivitas. Tapi hobi membuatnya selalu punya waktu bergabung dengan komunitas di luar parlemen.
Affandi memang bukan sosok yang suka kehidupan monoton.
“Sekarang eranya kreatif. Ngapain cuma kantor rumah, kantor rumah saja,” ungkapnya.
Mencuri senggangnya, Affandi bergabung dengan Performa, salah satu komunitas pecinta fotografi di Makassar. Anggotanya ada mahasiswa, pegawai swasta, akademisi, dan lainnya.
Bergabung di Performa pilihan tepat bagi Affandi. Sejak lama Affandi cinta fotografi karena punya nilai seni. Fotografi dia anggap sesuatu yang membutuhkan ketepatan dan kejelian rasa.
“Selain itu juga merupakan pilihan refreshing yang menyenangkan. Kalau saya paling suka motret outdoor. Seperti pemandangan, kegiatan kemasyarakatan. Keindahan dalam bidikan lensa itu yang sangat menyenangkan,” lanjutnya.
Affandi menekuni fotografi baru beberapa tahun terakhir. Awalnya karena sering bertemu teman komunitas fotografi di warung kopi. Berdiskusi ringan, bertanya ini itu, dan melihat hasil foto mereka. Selepas itu, ia akhirnya diajak bergabung di dalamnya.
Dari komunitas ini juga Affandi banyak berbagi teknik pemotretan. Sering juga menentukan agenda hunting, lalu saling menelaah hasil jepretan. Biasanya hampir tiap minggu mereka hunting dari jam enam sampai sepuluh pagi.
Di luar jadwal hunting, Affandi menghabiskan waktu bersama keluarga. Di akhir pekan ia biasa mengajak istri dan ketiga anaknya jalan-jalan. Paling sering mengunjungi toko buku. Kalau tidak, berburu aneka kuliner khas.
Affand bersama beberapa rekannya berencana membentuk komunitas IT. Ia akan mengumpulkan orang-orang yang tertarik atau punya kemampuan khusus di bidang jaringan komputer.
“Siapa saja bisa gabung”, tutupnya.

***Halaman Politik Harian Fajar edisi Senin, 2 mei 2011

Feature

Kepung Indonesia dengan Kampung Dongeng

0 Comments 10 May 2011

Dari Pelatihan Mendongeng Pendidik Anak Usia Dini

DUNIA mendongeng menakjubkan. Selain memberi pesan moral bermakna, juga menumbuhkan imajinasi.

AAN PRANATA, Balaikota

RUANG pola Balaikota tak seperti biasanya, Sabtu, 7 Mei. Meski hari libur kerja, ratusan ibu-ibu sudah berkumpul sekitar pukul 09.00 wita. Mereka peserta pelatihan
mendongeng yang digelar Pemkot Makassar memperingati ulang tahun ke-61 Ikatan Guru TK Indonesia-PGRI.
Narasumbernya dari Kampung Dongeng, yayasan yang giat mengembangkan dongeng di masyarakat. Bila sering menemani anak menonton saluran khusus anak di televisi, mudah mengenalinya. Namanya Muhammad Awam Prakoso, cukup dipanggil Kak Awam saja.
Peserta terpukau dengan aksi Kak Awam. Ia sering bertutur dengan gaya berdongeng. Kemampuannya menirukan berbagai macam suara membuat seisi ruangan berdecak kagum. Ada yang terperangah, tak jarang ada yang terpingkal dengan tingkah kak Awam yang kocak.
Kak Awam datang tidak sendiri. Ia bersama tim dan rekannya yang akrab disapa Kak Rey yang juga pemusik pengiring dongeng. Asalnya dari Jeneponto. Bersama Kak Awam, Kak Rey berkeliling nusantara menebarkan dongeng untuk anak bangsa.
Kak Awam berbagi ilmu tentang dongeng kepada 265 guru selama sekitar satu jam. Lebih banyak berbagi pengalamannya mendongeng. Selebihnya, mengajak guru-guru TK membiasakan dongeng untuk anak didik.
Kak Awam mengaku telah akrab dengan anak-anak sejak 1994. Kala itu ia bersama Haddad Alwi mendirikan yayasan khusus untuk membimbing anak-anak.
Pada 2009, dia mendirikan Kampung Dongeng. “Saya bercita-cita mengepung Indonesia dengan Kampung Dongeng,” ujarnya.
Banyak guru khususnya guru TK belum rutin berdongeng, kata dia, karena belum bisa bercerita dengan baik. Permasalahan tidak punya banyak bahan cerita bisa diatasi dengan memilih dari buku cerita yang banyak beredar di pasaran, asal sesuai usia anak.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Mahmud BM mengatakan, dongeng bisa membangkitkan imajinasi dan mengarahkan anak berpikir kreatif.     ”Dongeng mengandung informasi pengantar anak memaksimalkan kemampuannya berimajinasi. Lewat dongeng, anak diharap mampu membentuk kembali karakter bangsa yang santun,” katanya. (*)

***Halaman Metropilis Harian Fajar edisi Minggu, 8 mei 2011

Feature

Di Pattene Air Sulit, Kenyang Janji-janji

0 Comments 10 May 2011

*Nasib Warga di Tapal Batas (3-Selesai)

Warga Makassar di pusat kota merasakan pelayanan sosial. Air dan layanan lain tak bermasalah. Bagaimana keadaan warga yang tinggal jauh dari pusat kota?

Aan Pranata

Makassar secara demografis berbatasan dengan kabupaten Maros di sebelah utara. Gapura Batas Kota di Mandai jadi pemisah kedua daerah tersebut. Bergeser sedikit ke barat, kita bisa menemukan gapura serupa dengan ukuran yang agak kecil. Letaknya di jalan Pattene.

Bagi orang yang belum mengenal betul jalan-jalan di kota Makassar, mungkin agak susah untuk menemukan jalan Pattene. Letaknya berdampingan dengan jalan tol Ir. Sutami. Untuk ke sana, praktis harus melalui jalan tol dan keluar di salah satu pintunya.

Jarak Pattene dari batas kota di Mandai sebenarya tidak jauh. Hanya perlu waktu sekitar 15 menit dengan kendaraaan beroda dua. Secara administratif, daerah ini masuk di kelurahan Sudiang, kecamatan Biringkanaya. Di sepanjang daerah ini berdiri perumahan penduduk. Ada juga beberapa gudang hasil pabrik. Di salah satu sudut jalan, berdiri usang bangunan bekas kantor salah satu anak perusahaan Fajar. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga mendapatkannya dari pasar Mandai.

Pattene agak berbeda dengan wilayah lain di kota Makassar. Salah satu titik di jalan ini berdiri gapura kecil. Tulisan selamat jalan berjejer di atasnya. Tugu ini jadi penanda batas Maros dan Makassar. Sebelum tugu, jembatan kecil dari beton memisahkan kedua daerah ini. Ukurannya cukup kecil. Pemuda sekitar sering memancing ikan di sungai dari jembatan ini. Di sebelah jembatan, kita bisa menginjakkan kaki di kabupaten Maros. Ada desa Marusu’ di sana.

Jalan sepanjang Pattene cukup mulus. Beton tebal pengganti aspal terbentang panjang. Sekitar dua kilometer dan berakhir di jembatan. Berakhir di situ karena memang batas daerah Makassar hanya sampai di jembatan tersebut.

Jalan beton ini belum cukup lama terbentang. Mungkin baru beberapa bulan. Bur (26) mengatakan hal tersebut. Tak ingat kapan secara pasti, namun pekerja jalan menyelesaikan akses jalan di tempat mereka tahun lalu.

Sebelum  beton terhampar kokoh di jalan ini, warga mengaku sangat kesulitan untuk mengakses daerah lain. Kadang dibikin jengkel. Lubang di sana-sini. “Jalan di sini dulu jangan dibilang. Kalau motor dikasi kencang, jatuh”, ungkap salah seorang rekan Bur mengumpakan kondisi jalan di masa itu.

Kondisi jalan yang mulus tak berarti membuat warga sekita tak banyak lagi mengeluh. Bertahun-tahun setelah Jalan Pattene ini dinyatakan masuk wilayah Makassar melalui PP nomor 52/1971, warga masih juga mengeluhkan soal akses air bersih. Warga di sini mengaku memperoleh air melalui galian sumur di masing-masing rumah. Air dari sumur ini diakuinya tidak dapat sepenuhnya digunakan untuk keperluan sehari-hari. Letaknya yang tak jauh dari pesisir pantai membuat kandungan air terasa asin.

“Rata-rata sumur di sini airnya asin. Kan dekat laut”, ungkap Bur kembali melanjutkan.

Air dari sumur merupakan satu-satunya sumber air mereka di daerah ini . Mereka tak punya pilihan lain. Aliran air dari PDAM kota Makassar belum menjangkau daerah ini. Sedangkan di desa sebelah yang masuk kekuasaan Maros, PDAM sudah masuk beberapa tahun lalu. Padahalm jarak desa Marusu’ dan Pattene lumayan dekat. Cukup dekat, sekitar 200 meter.

Pemerintah bukannya tidak peduli dengan kondisi sekitar Pattene. Beberapa kali pejabat dari pemkot menjanjikan warga berbagai fasilitas. Selain soal air, pejabat-pejabat yang datang katanya pernah menjanjikan beberapa sarana umum. Katanya, akan dibangun lapangan futsal di daerah ini. Pangkalan ojek yang digunakan sebagian pemuda untuk mencari nafkah, juga dijanjikan untuk diperbaiki. Namun, mungkin dalam waktu dekat hal itu belum bisa mereka rasakan. “Pernah dijanji waktu kampanye, tapi sampai sekarang belum dipenuhi,” tutup Bur.(*)

***Halaman Metropilis Harian Fajar edisi Jumat, 29 april 2011

aANITA NUR

Linimasa

© 2012 Aan's Corner. All rights reserved.

Powered by Blog.com